logo
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikolog ~ Indonesian Psychologist
 
 
 
 
 
 
 
 
Search engine

Krisis Timur Tengah

Main Menu
Home
Articles
My Stories
Photo Gallery
e-Quiz
Konsultasi Psikologi
Form Konsultasi
Search
Links
Guestbook :: Your Comments
S & R
 
 
 
Home arrow Articles arrow Social Processes and Social Issues arrow Krisis Timur Tengah: Bukan Masalah Agama?
Krisis Timur Tengah: Bukan Masalah Agama? PDF Print E-mail

Published in : The Articles, Social Processes and Social Issues

Ketika pecah kerusuhan di Tasikmalaya, Situbondo dan Rengasdengklok (1996) dan kemudian di Ambon dan Poso (1999) banyak pakar-pakar Melayu (termasuk saya sendiri) dan internasional juga, yang langsung menganalisis dan menyimpulkan bahwa itu bukanlah masalah agama. Demikian pula ketika FPI menyerbu kantor majalah Playboy dan massa yang terdiri dari ribuan orang berunjuk rasa pro RUU-APP, banyak yang hakul yakin bahwa itu hanya ulahnya sekelompok orang yang mengatas namakan agama. Tentu ada motif-motif lain di balik isyu "agama" itu. Mungkin politis, dan sangat boleh jadi ekonomi (termasuk uang demo Rp 15.000 sehari).

Tetapi ketika beberapa minggu yang lalu saya melihat tayangan breaking news CNN dan BBC tentang pesawat-pesawat udara Israel yang membomi Libanon tanpa perikemanusiaan, dan menimbulkan korban luar biasa di kalangan penduduk sipil, termasuk anak-anak dan wanita, saya terperanjat bukan main dan mulai berpikir bahwa jangan-jangan analisis saya selama ini salah (untungnya saya tidak sendirian, karena pakar-pakar ilmu sosial, termasuk para pakar ilmu agama dan tokoh agama sependapat dengan saya). Tidak mungkin kalau hanya sekedar bertujuan politik atau ekonomi (konon untuk menjaga kepentingan AS akan ladang-ladang minyak di Timur Tengah), orang-orang Israel akan tega menyaksikan tayangan TV yang terus-menerus tentang anak-anak kecil berteriak-teriak ketakutan, menjerit-jerit karena luka, bahkan ada yang terkapar mati dengan wajahnya yang masih tersenyum lucu, sementara orantguanya menangis meraung-raung. Orang Israel juga manusia, punya hati punya rasa (mengutip syair lagu pop-rock). Hanya satu yang bisa membuat orang kehilangan hati dan perasaannya seperti itu, yaitu keyakinan akan sesuatu kebenaran yang dianggapnya sangat mutlak.

Di jaman Lon Nol, anggota-anggota pasukan Khmer Merah, dengan santai membelah perut ibu yang sedang hamil hidup-hidup karena keyakinannya bahwa begitulah caranya untuk membasmi imperisalisme dan kapitalisme Amerika. Ideologi mereka pada waktu itu adalah komunis, sama dengan PKI-PKI yang konon membantai rakyat jelata di pemberontakan Madiun 1948, maupun pada peristiwa G-30-S 1965. Tetapi bukan komunisme saja yang bisa mendorong manusia gelapmata seperti itu. Nasionalisme Serbia menyebabkan tentara ex-anak buah Tito itu membabat etnik Bosnia habis-habisanm, dan di zamannya Hitler, nasionalisme Jerman (Nazi) telah menyebabkan pramuka-pramuka Jerman (Hitler Jugend) tega melaporkan tetangga teman mainnya yang kebetulan Yahudi ke Gestapo.



Last update : 04-11-2007 09:40

   
Quote this article in website
Favoured
Related articles
Save this to del.icio.us

Keywords : kerusuhan di Tasikmalaya, Situbondo dan Rengasdengklok, Ambon dan Poso, majalah Playboy, breaking news CNN dan BBC, nasionalisme Jerman, Jihad itu indah, konflik antar agama


Users' Comments  RSS feed comment
 

Average user rating

   (0 vote)

 


Add your comment
Name
E-mail
Title  
 
Comment
 
Available characters: 600
   Notify me of follow-up comments
   
   

No comment posted



mXcomment 1.0.5 © 2007-2009 - visualclinic.fr
License Creative Commons - Some rights reserved
 
< Prev   Next >
 

Valid XHTML 1.0 TransitionalValid XHTML 1.0 Transitional

© 2009 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikolog ~ Indonesian Psychologist
(2003-2007) Design & Content Management by Juneman, S.Psi., C.W.P.